Hariono, Insinyur Sipil yang Serius di Bisnis Pijat

Kompas/retno bintarti
Hariono
KALAU kebetulan Anda menemukan Javanese Traditional Massage di Singapura, tak salah lagi, itu adalah pijat asal Indonesia. Sudah setahun ini pijat ala Jawa ini melanglang di negeri jiran tersebut.Hasilnya lumayan, terus terjadi peningkatan. Soalnya kami pasang harga tak mahal, cuma 50 dollar Singapura. Bandingkan dengan pijat di hotel di sana yang harganya 80 dollar,” begitu kata Hariono, pemilik tempat pijat di River Valley Road, kawasan Liang Road.
Untuk masyarakat Singapura, harga pijat 50 dollar atau sekitar Rp 250.000 sejam, ditambah lagi dengan jenis pijatannya yang menurut Hariono, “Jauh lebih enak dari pijat lain misalnya Thai massage.”

Hariono, pria kelahiran Malang tahun 1944, mengenal betul macam-macam jenis pijat karena salah satu usaha yang dijalaninya sejak tahun 1983 adalah di bidang pijat. Dengan merek dagang Bersih Sehat, Hariono terus mengembangkan jasa pijat ini sampai yang terakhir di Singapura.

Di Jakarta, Bersih Sehat yang mulai dirintis dari sebuah rumah kontrakan dekat Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, kini mempunyai empat lokasi. Dalam beberapa hari ini bahkan akan bertambah lagi satu tempat di Plaza Menteng, Jakarta Pusat. Tempat serupa, dengan nama Griya Anyer Spa, dibuka beberapa tahun lalu di Anyer.

Sebelum terjadi krisis ekonomi, lokasi di Anyer itu banyak didatangi orang-orang asing yang bekerja di proyek-proyek dekat situ. “Sekarang tamunya agak berkurang karena orang-orang asing pergi. Kebanyakan sekarang orang-orang lokal,” kata Hariono.

Tamu Asia

Sebagian tamu Bersih Sehat memang orang-orang asing, khususnya Jepang, Korea, Singapura, Cina, sebagian lagi orang-orang Barat. “Biarpun begitu, jelas tamu orang Indonesia lebih besar. Tamu asing mungkin sekitar 40 persen. Kebanyakan orang-orang Asia karena memang orang Asia lebih mengenal pijat,” ucap Hariono.

Tak lama sesudah dia memberi keterangan, serombongan orang-orang asing datang secara bersamaan. “Mereka adalah crew China Airlines. Biasanya mereka pijat sampai 4,5 jam. Mulanya dua jam, lalu makan minum, lanjut lagi 2,5 jam lagi. Katanya selain murah dan merasa segar, sekalian menghilangkan jet-lag,” kata pemilik tempat pijat ini.

Dari mana orang-orang itu mengenal tempat pijat itu, Hariono kemudian menunjukkan sebuah majalah perjalanan terbitan Singapura serta buku Business Traveler in Asia 2000 terbitan Nikkei yang menyebut tempat pijat ini. Buku tersebut merupakan semacam rekomendasi buat mereka yang membutuhkan tempat-tempat khusus ketika sedang berkunjung ke negara tertentu. Hariono merasa beruntung, tempat pijatnya tercantum di situ. “Karena bukan saya yang menyodorkan diri. Mereka survei dan sama sekali saya tidak bayar,” katanya.

Di tengah makin banyak usaha serupa, lagi-lagi Hariono merasa bersyukur tempat pijatnya masih didatangi pelanggan-pelanggannya. Hari Sabtu sesudah makan siang merupakan saat puncak dalam sepekan. Kapasitas tempat di Jalan Tebah, Mayestik, sebanyak 80 kamar misalnya, biasanya sebagian besar terisi.

Meski antara tempat tidur cuma berbatas sekat kain, tamu tidak perlu khawatir mendengar suara ribut orang ngobrol. “Kami mempunyai peraturan agar tamu mematikan telepon genggam sebelum masuk dan diharapkan mereka tidak ngobrol selama dipijat,” kata Hariono.

Bukan cuma ketenangan, Hariono juga menjamin tempat pijatnya bersih dari kemesuman yang sering dikonotasikan terjadi di tempat-tempat pijat. Nama Bersih Sehat dipakai bukan tanpa maksud. Kata bersih tak cuma berarti bersih secara fisik, tetapi juga bersih dalam arti pikiran. “Kata ini sengaja saya pakai dan mempunyai arti bersayap,” jelas Hariono.

Begitu juga kata griya yang mendahuluinya dipilih untuk menciptakan konotasi positif. “Dulu ketika saya mulai membuka usaha ini kan tempat-tempat pijat menggunakan istilah panti yang kemudian berkonotasi kurang baik,” ungkap Hariono.

Doyan pijat

Sebagai seorang insinyur sipil lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1973, Hariono seperti tersasar ke bidang usaha jasa ini. “Dulu enggak punya pikiran untuk mengembangkan cabang. Banyaknya saingan semakin memacu saya karena kalau ada apa-apa karyawan saya yang sudah banyak itu mau diapakan,” begitu pertimbangannya sampai akhirnya dia membuka satu per satu cabangnya.

Dengan jumlah pemijat sekitar 200 orang dan karyawan lainnya sebanyak 100 orang, Hariono akhirnya memang harus mengembangkan usahanya. “Bisnis ini bukan bisnis besar, tetapi cukup memberi lapangan pekerjaan kepada banyak orang,” kata pria yang juga mempunyai usaha konsultan teknik, usaha bidang pendidikan, dan restoran ini.

Makanya kendati awalnya sekadar-sekadar saja, Hariono kemudian serius mengelola usaha jasa ini. Jika dipikir-pikir ke belakang, dia sendiri heran mengingat dulu idenya hanya gara-gara tak pernah menemukan tempat pijat yang pas.

Hariono dasarnya suka pijat. “Dari kecil kalau saya sakit ibu memanggilkan mbok-mbok pijat. Saya jadi suka sekali pijat, tetapi waktu sudah di Jakarta susah sekali cari mbok-mbok pemijat,” ungkap pria kelahiran Malang ini.

Kesulitan ini yang mendorong Hariono membuat tempat pijat. Boleh dikatakan tanpa modal berarti. Sebuah rumah sederhana di Jalan Tebah, Kebayoran Baru, dikontrak dan dijadikan tempat usaha pijat. Lantai dari semen dibiarkan cuma ditutup vinil supaya kelihatan lebih bersih.

“Saya tekankan, karena tempatnya jelek, pelihara dengan lebih baik. Yang paling saya tekankan adalah kebersihan. Kalau tempat bagus cukup dipel, karena tempatnya jelek harus ada ekstra misalnya menggosok,” ungkap Hariono mengenang awal usaha pijatnya ini.

Di luar dugaan, respons bagus. Kapasitas delapan tempat tidur yang disediakan, dalam waktu dekat tidak mampu menampung tamu yang sebagian di antaranya adalah orang-orang Jepang di Jakarta.

Penambahan tempat tidur menjadi 20 buah pun kemudian tidak cukup lagi sampai akhirnya ini memunculkan pesaing baru yang rupanya menampung limpahan tamu-tamu Bersih Sehat.

“Pesaing waktu itu punya kapasitas 30 tempat tidur. Saya harus bisa lebih dari itu, saya luaskan tempat sehingga bisa menampung 31 tempat tidur, ha…ha…ha,” ungkap Hariono.

Rumah kontrakan sederhana sudah tak berbekas lagi. Cikal bakal Bersih Sehat di Mayestik kini bukan cuma tidak lagi berlantai semen, tetapi juga menarik dengan bangunan tiga lantai. Perluasan tak hanya ke atas, juga menyamping alias ekspansi ke samping.

Lokasi yang kini banyak tertutup bangunan baru, ternyata tak mengurangi kedatangan tamu. “Mungkin karena pelanggan telanjur kenal dan usaha seperti ini kan memang lebih mengandalkan promosi mulut ke mulut. Kalau orang puas, mereka akan membawa teman-temannya,” begitu antara lain kiat yang diyakini betul oleh Hariono. (ret)

Sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s