Tuntaskan Sakit Kepala dengan Asap Lilin


Penyebab Sakit Kepala di Telinga?

Anda sering mengeluh sakit kepala, migrain atau vertigo? Jangan buru-buru menganggap ada yang salah pada kepala Anda. Coba cek dahulu telinga Anda siapa tahu sumber masa malah ada di sana.

Kebanyakan orang yang mengeluhkan sakit kepala langsung saja minum obat sakit kepala. Mereka menganggap, dengan cara itu masalah akan selesai. Memang, keluhan akan hilang. Tapi sakit kepala mungkin bakal sering berulang kalau penyebab utamanya belum ditangani.

Bisa jadi, penyebab sakit kepala itu justru ada di telinga. Lo? Ya, bukankah pusat keseimbangan tubuh ada di telinga? Ketika keseimbangan itu terganggu, entah oleh jamur, radang, atau bisul di dalam telinga, kerja bagian tubuh yang lain juga akan terganggu. Salah satu dampaknya adalah sakit kepala.

Lalu, bagaimana mengatasinya?

Tak ada salahnya kalau mencoba ear candle therapy (ECT). Terapi ini menawarkan solusi untuk mengobati dan mengembalikan keseimbangan tubuh.

ECT bukanlah “barang” baru. Sekitar 4.000 tahun lalu suku Indian, penduduk asli daratan Amerika, memanfaatkan ear candle untuk upacara spiritual. Ear candle yang digunakan saat itu terbuat dari kulit jagung yang dilapisi sarang lebah. Sekarang, digunakan kain linen sebagai pengganti kulit jagung. Kualitasnya harus tinggi agar abu bakaran tidak beterbangan. Karena menggunakan sarang lebah, warna ear candle bisa berubah sesuai musim, tergantung pada jenis bunga yang madunya diisap oleh sang lebah.

Mengangkat kotoran

ECT pada dasarnya sarana untuk mebersihkan telinga. Namun, efeknya ternyata bisa mengobati penyakit seperti gangguan pendengaran, kehilangan keseimbangan, tinitus (telinga berdengung). Karenanya, ECT bisa juga digunakan untuk menyembuhkan atau mengurangi keluhan beberapa penyakit. Umumnya memang yang berkaitan dengan pendengaran. Namun, tidak menutup kemungkinan ECT dapat menyembuhkan penyakit yang secara tidak langsung berkaitan dengan pendengaran, misalnya migrain, vertigo, sinusitis, bahkan insomnia.

Sesuai namanya, untuk mempraktikkan ECT dibutuhkan lilin. Tentu saja bukan lilin sembarangan. Ada lilin khusus untuk itu yang disebut ear candle. Bentuknya mirip lilin biasa, hanya saja bagian tengahnya berlubang, seperti sedotan minuman. Diameternya 1,5 cm dan panjangnya kira-kira 20 cm. Ear candle ini terbuat dari sarang lebah, kain linen kualitas tinggi, chamomile, dan sage yang bisa membunuh kuman di dalam telinga. Selain lilin, juga diperlukan tatakan untuk mencegah serpihan lilin masuk ke telinga dan otoscope, alat peneropong kondisi telinga.

Menurut Dra. Susana Budiman, terapis ECT dari Ear Candle Center, sebenarnya ada berbagai jenis dan bentuk lilin yang diproduksi oleh berbagai negara. Di antaranya lilin dari Kanada. Lilin jenis ini menggunakan kapas di tengah-tengah lubang sebagai filter. Namun, kapas ini justru mengundang masalah. Ada kasus yang membuat seorang pasien di negeri itu harus menjalani operasi gendang telinga setelah menjalani ECT. Ternyata, kapas justru membuat asap lilin makin panas dan serpihan kapas panas itu jatuh ke atas gendang telinga pasien. Karena itu, Susana tidak berani menggunakannya. Lain lagi lilin produksi dalam negeri yang kualitasnya kurang baik. “Kalau dibakar bukannya membersihkan telinga malah bikin sampah dalam telinga,” kata Susana.

Masih ada lagi jenis lilin lain yang ternyata tidak mampu mengangkat kotoran dalam telinga karena lubang lilin yang terlalu kecil sehingga daya angkatnya kurang. “Lilin yang saya pakai ini aman,” ujar Susana sedikit berpromosi. Sekadar informasi, lilin yang digunakan Susana diimpor dari Amerika Serikat.

Dalam ECT, ear candle bekerja layaknya vacuum cleaner yang menyedot kotoran. Lilin yang dibakar akan menghasilkan panas. Tekanan udara di atas menjadi lebih rendah sehingga asap putih hasil bakaran lilin masuk ke dalam tehinga. Setelah 3/4 lilin terbakar, asap di dalam telinga pun menjadi jenuh. Dengan adanya aliran udara dan tekanan lebih tinggi, asap putih itu akhirnya keluar dari dalam telinga sambil membawa partikel-partikel yang ada di dalam telinga, termasuk wax yang ada di dalam rumah siput.

Untuk satu kali terapi, biasanya dibutuhkan minimal dua batang lilin per-telinga. Meskipun maksimal digunakan adalah empat batang per-telinga, Susana mengaku tak pernah memakai lebih dari tiga batang. “Malah bisa jadi iritasi kalau digunakan berlebihan,” jelasnya. Satu batang ear candle memang tidak murah. Satu lilin harganya mencapai Rp 67.500,-. Biasanya Susana masih tetap mengkombinasikan antara terapi dengan obat-obatan lain yang mendukung proses penyembuhan. Baik itu obat tetes telinga maupun obat minum, yang harganya bervariasi.

Terapi ini minimal dilakukan oleh dua orang. Paling tidak diperlukan seseorang untuk membantu memegang lilin. “Lilin ini harus dipotong setiap lima menit, jadi harus ada orang yang menggunting,” jelas Susana.

Kalau karena suatu hal Anda tidak bisa mendatangi terapis, Anda bisa melakukan ECT di rumah. Syaratnya, Anda mesti sudah mengerti prosedurnya.

Agar terapi membuahkan hasil, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Antara lain tidak berenang selama terapi, atau selalu mengenakan ear plug untuk menjaga agar telinga tidak kemasukan air dan udara. Ear plug ini wajib dipakai saat berenang, mandi, dan berkendara dengan sepeda motor. Pasien juga dianjurkan untuk tidak makan makanan berprotein tinggi yang dapat memicu radang/infeksi seperti seafood (udang, kepiting, ikan asin), telor, dan susu.

Pantangan di atas memang sebaiknya tidak dilanggar.

“Telinga bisa jadi budheg lagi,” tegasnya. Kasus itu sudah pernah terjadi pada salah seorang pasiennya yang lupa memakai ear plug saat membonceng motor meski jaraknya dekat.

ECT memang bukan tanpa risiko. Tapi, risiko itu sangat kecil. Salah satunya, bila diterapi terlalu sering atau terlalu banyak lilin akan membuat radang semakin parah. Pelanggaran terhadap pantangan juga akan menimbulkan risiko.

Datang “lumpuh”, pulang jalan

Seberapa ampuhkah ECT menyembuhkan penyakit? Untuk menjawabnya, mari kita tengok pengalaman seorang pasien seperti yang dituturkan Susana. Pasien ini seorang wanita berusia 44 tahun. Ia menderita vertigo parah. Ia sudah menjalani opname di enam rumah sakit di Jakarta. Ketika datang ke tempat praktik Susana, ia harus dituntun oleh dua orang. Satu di kiri dan satu lagi di kanan. Jika hanya satu orang yang memegangnya, ia tetap akan jatuh ke sisi lainnya.

Di tempat praktik Susana, ia menerima terapi standar.

“Tidak ada perbedaan cara terapi untuk penyakit apapun. Semua sama,” jelas Susana. Untuk pasien ini, Susana menggunakan dua lilin per telinga, masing-masing lilin akan habis dalam waktu 15 menit. Setelah selesai terapi, Susana selalu memberikan satu gelas air mineral pada pasien agar tenggorokan tidak kering akibat adanya panas dalam rongga telinga.

Tingkat keberhasilan terapi pasien tergantung dari banyak hal, seperti jumlah lilin yang digunakan, jenis penyakit, dan tingkat kepatuhan pasien menjauhi pantangan. Untuk pasien yang menderita vertigo di atas, baru selesai terapi yang pertama langsung bisa jalan sendiri tanpa dituntun.

Susana menjelaskan, vertigo terjadi karena adanya gangguan keseimbangan tubuh akibat tumpukan jamur maupun radang telinga. Penyakit ini bisa disembuhkan karena jamur di telinga berhasil dihilangkan dan radang disembuhkan.

Pengalaman Susana lain lagi. Lebih dari 20 tahun lalu, ia mengalami kecelakaan mobil. Ia selamat, namun ia sering mengalami nyeri dan kram di tangan dan kakinya, kepalanya juga kaku. “Kepala saya, sampai tidak bisa diputar,” akunya.

Berbagai pengobatan medis maupun alternatif dialaminya. Namun tak berhasil. Atas anjuran teman yang juga seorang dokter, ia mencoba ECT. Karena jumlah lilin yang dimihiki temannya terbatas, ia meminta anaknya yang bersekolah di Amerika Serikat untuk mencarikan ear candle. Berbagai jenis lilin dibeli dan diseleksi. Akhirnya ia menemukan satu jenis lilin yang berkualitas bagus dan ia gunakan hingga sekarang. Di rumah, ia meneruskan ECT selama 1,5 bulan.

Awalnya ia ditentang oleh keluarganya, yang tentu saja memikirkan risiko terapi itu. Dengan ECT dan didukung dengan produk lain, Susana akhirnya bisa hiking ke Lembang sampai puncak tanpa mengeluh sakit. Terapi ini berhasil menyembuhkannya dari penderitaan selama puluhan tahun.

Gangguan kesehatan yang sempat dialami Susana dan pasiennya tentu tidak diinginkan banyak orang. Namun, perhatian terhadap kebersihan telinga juga tidak boleh dilupakan. Jangan biarkan jamur, yang berasal dari udara dan air di lingkungan kita, menumpuk begitu saja di dalam lorong telinga kita. *** (Intisari)

Sumber : www2.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s